Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS)

Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS) adalah gangguan yang menyerang saraf motorik di otak dan tulang belakang. Saraf motorik berfungsi menghantarkan signal listrik saraf yang mengendalikan gerakan otot. Kerusakan pada saraf motorik mengakibatkan tubuh kehilangan kemampuan untuk menggerakkan otot, sehingga otot menjadi lumpuh dan kemudian mengecil. Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS) terjadi pengerasan dan penyusutan saraf-saraf motorik. Akibatnya, signal listrik saraf tidak dapat dihantarkan dan otot-otot tidak mendapatkan perintah untuk bergerak, sehingga mengakibatkan kelumpuhan, kesulitan mengunyah, menelan, berbicara, atau bahkan bernapas.

Saraf motorik dibagi menjadi dua bagian, yaitu saraf motorik atas (upper motor neuron, UMN) yang bertugas mengirimkan pesan dari otak ke saraf tulang belakang, dan saraf motorik bawah (lower motor neuron, LMN) yang bertugas mengirimkan pesan dari saraf tulang belakang ke otot.

ALdibagi menjadi 2 tipe, yaitu:

  • Sporadic ALS. Kondisi ini dialami oleh 95 persen pengidap penyakit Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS) tanpa sebab yang jelas.
  • Familial ALS. Kondisi ini terjadi karena pengaruh kelainan genetik yang diturunkan. Orangtua yang menderita ALS, berpotensi menurunkan penyakit tersebut kepada anak-anaknya.

Gejala Penyakit

Tanda-tanda awal kemunculan penyakit Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS) biasanya dimulai dari tangan, lalu ke kaki, dan menyebar ke bagian tubuh yang lain. Gejalanya terdiri dari:

  • Tangan terasa lemas dan sering menjatuhkan barang.
  • Lemah pada tungkai dan kaki, sehingga sering jatuh atau tersandung.
  • Sulit menegakkan kepala.
  • Sulit menjaga posisi badan.
  • Bicara tidak jelas.
  • Sulit menelan.
  • Sulit berjalan dan melakukan aktivitas normal sehari-hari.

Walaupun mengganggu pergerakan, penyakit Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS) yang juga dikenal dengan nama penyakit Lou Gehrig ini tidak memengaruhi fungsi indera dan kemampuan untuk mengendalikan buang air kecil (BAK) maupun buang air besar (BAB). Penderita ALS juga tetap bisa berpikir dengan baik dan berinteraksi dengan orang lain.

Penyebab Penyakit ALS

Belum diketahui pasti apa penyebab kerusakan sel saraf pada penyakit ini. Sekitar 10 persen dari kasus yang terjadi, ditemukan adanya mutasi genetik yang menyebabkan pembentukan suatu protein yang sifatnya merusak sel saraf.

Ada beberapa faktor lain yang juga diduga dapat menjadi penyebab kerusakan sel pada ALS, di antaranya:

  • Kelebihan glutamat. Glutamat adalah zat kimia yang berperan sebagai pengirim pesan dari atau ke otak dan saraf. Akan tetapi, apabila terjadi penumpukan glutamat di sekitar sel saraf dapat menimbulkan kerusakan pada saraf.
  • Gangguan sistem imun. Dalam kondisi tertentu, sistem kekebalan tubuh seseorang justru menyerang sel-sel yang sehat di dalam tubuh dan menyebabkan kerusakan pada sel-sel saraf.
  • Gangguan pada mitokondria. Mitokondria merupakan tempat pembentukan energi di dalam sel. Gangguan dalam pembentuan energi ini dapat merusak sel-sel saraf, serta mempercepat perburukan penyakit yang mungkin disebabkan oleh faktor lain.
  • Stres oksidatif. Kadar radikal bebas yang berlebihan akan menyebabkan stres oksidatif, dan menyebabkan kerusakan pada berbagai sel tubuh.

Faktor Resiko Penyakit ALS

Ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko penyakit Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS), di antaranya:

  • Usia. Hasil studi menemukan bahwa seseorang dengan usia 40-60 tahun lebih berisiko mengalami penyakit Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS).
  • Jenis kelamin. Pria berusia 65 tahun berisiko mengalami penyakit Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS) dibandingkan wanita dengan usia yang sama.
  • Keturunan. Pengidap penyakit Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS) berpotensi menularkan penyakit ini kepada anaknya dengan presentase 50 persen.
  • Genetika. Penelitian menemukan seseorang dengan jenis gen tertentu berpotensi mengalami penyakit Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS).
  • Merokok. Rokok bisa memicu kemunculan penyakit Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS), terutama pada perempuan yang sudah menopause.
  • Paparan zat kimia beracun. Paparan zat kimia beracun secara terus-menerus bisa memicu terjadinya penyakit Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS).

Diagnosis Penyakit Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS)

Penyakit Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS) sulit didiagnosis sejak dini karena tanda dan gejalanya mirip dengan gangguan neurologi yang lain. Untuk menegakkan diagnosa penyakit Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS), dapat dilakukan beberapa tes berikut:

  • Elektromiogram (EMG), untuk mengevaluasi aktivitas listrik pada otot.
  • Pemeriksaan MRI, untuk melihat sistem saraf mana yang bermasalah.
  • Pemeriksaan darah dan urin, untuk mengetahui kondisi kesehatan penderita secara umum, adanya kelainan genetik, atau faktor penyebab lain.
  • Pemeriksaan kecepatan hantar saraf, untuk menilai fungsi dari saraf-saraf motorik tubuh.
  • Sampel biopsi otot, untuk melihat kelainan pada otot.
  • Spinal tap, untuk memeriksa sampel cairan otak yang diambil melalui tulang belakang.

Pengobatan Penyakit ALS

Pengobatan dilakukan untuk menghambat perkembangan penyakit serta mencegah komplikasi. Obat-obatan dapat juga diberikan untuk meringankan gejala, misalnya nyeri, kram, kejang otot, sembelit, air liur dan dahak yang berlebihan, gangguan tidur, serta depresi.

Di samping itu, akan disarankan penderita untuk menjalani serangkaian terapi yang terdiri dari:

  • Terapi pernapasan. Apabila kelemahan sudah terjadi pada otot-otot pernapasan, maka pernapasan akan dibantu oleh mesin, terutama pada waktu tidur.
  • Terapi fisik. Untuk menjaga kebugaran tubuh, kesehatan jantung, dan meningkatkan kekuatan otot.
  • Terapi bicara. Membantu penderita untuk bisa berkomunikasi dengan baik (terutama verbal) dengan mengajarkan teknik-teknik tertentu.
  • Terapi okupasi. Membantu penderita melakukan aktivitas rutin sehari-hari dengan bantuan alat dan teknik khusus, untuk tetap menjaga kemampuan fungsional dan kemandirian penderita.

Penanganan tambahan lain yang bisa diberikan yaitu berupa pengaturan asupan nutrisi. Disarankan agar penderita diberikan makanan dalam bentuk yang mudah ditelan, dan mengandung gizi yang cukup.

Komplikasi Penyakit Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS)

  • Kesulitan berbicara. Pengidap penyakit Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS) sering mengalami kesulitan berbicara. Kata-kata yang diucapkan tidak jelas dan sulit dipahami.
  • Gangguan pernapasan. Penyakit Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS) jangka panjang bisa melumpuhkan otot-otot pernapasan.
  • Gangguan makan. Kerusakan otot yang digunakan untuk mengunyah dan menelan makanan menyebabkan terjadinya malanutrisi dan dehidrasi pada pengidap penyakit Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS).
  • Demensia. Banyak pengidap penyakit Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS) mengalami demensia, dengan gejala berupa penurunan daya ingat dan kemampuan membuat keputusan.

Catatan situs:

  • Mohon dukungannya dengan share dan web bookmark (kode: ctrl + d) website kami .
  • Jangan lupa untuk like halaman facebook kami fb.com/analisis.id.
  • Jika ada gambar, link, dan ataupun file rusak silakan kirim pesan pada kolom komentar, kami akan segera membalasnya.
  • Sekilas tentang kami.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments