Deteksi Bahaya Kehamilan

Tanda bahaya kehamilan adalah tanda-tanda yang mengindikasikan adanya bahaya yang dapat terjadi selama kehamilan, yang apabila tidak dilaporkan atau tidak terdeteksi bisa menyebabkan kematian ibu. Tanda bahaya kehamilan dapat mengancam keselamatan ibu dan janin dan dapat menyebabkan komplikasi kehamilan. Sehingga tanda bahaya kehamilan perlu diketahui terutama yang mengancam keselamatan ibu maupun janin yang dikandungnya.

Salah satu pengetahuan yang harus diketahui ibu hamil adalah pengetahuan tentang tanda bahaya kehamilan. Tanda bahaya kehamilan adalah tanda gejala yang menunjukan ibu atau bayi yang dikandungnya dalam keadaan bahaya. Bila ada tanda bahaya, biasanya ibu perlu mendapat pertolongan segera di rumah sakit (hospital emergensy). Tanda bahaya kehamilan yang sering muncul antara lain ibu tidak mau makan dan muntah terus, berat badan ibu hamil tidak naik, perdarahan (bleeding), bengkak di tangan atau wajah, pusing, gerakkan janin berkurang, kelainan letak janin, ketuban pecah sebelum waktunya, dan penyakit ibu yang berpengaruh terhadap kehamilan. Tanda bahaya kehamilan sebagai berikut:

1. Perdarahan yang keluar dari jalan lahir

Tidak selamanya kehamilan berjalan mulus. Sering kali dijumpai wanita hamil yang mengalami perdarahan, baik pada kehamilan muda ataupun menjelang cukup bulan. Perdarahan pada trimester I ada yang merupakan hal fisiologis yaitu tanda hartman yaitu perdarahan pervaginam akibat proses nidasi blastosis ke endometrium yang menyebabkan perlukaan. Perdarahan yang fisiologis ini berlangsung sebentar, sedikit dan tidak membahayakan kehamilan. Tetapi perdarahan pada trimester I juga dapat merupakan hal yang patologis.

Pada awal kehamilan, perdarahan yang patologis atau tidak normal adalah perdarahan yang merah, banyak disertai rasa nyeri, yaitu aborsi, kehamilan ektopik ataupun mola hidatidosa. Kehamilan pada trimester II sering dihubungkan dengan adanya komplikasi lambat dalam kehamilan, seperti partus prematurus, pertumbuhan janin terhambat, solusio plasenta, plasenta previa dan mola hidatidosa. Perdarahan pada trimester II ini berbahaya karena akan mengancam keselamatan ibu dan janin.

Perdarahan pada trimester III perlu diperhatikan, apakah perdarahannya merupakan perdarahan patologi atau perdarahan karena inpartu. Jika perdarahan merupakan tanda persalinan atau keadaan inpartu, maka perdarahan ini normal. Pada keadaan inpartu, biasanya darah bercampur lendir, sebagai akibat dari terlepasnya lendir penutup serviks. Tetapi jika perdarahan ini belum masuk tanda-tanda inpartu, keadaan ini berbahaya karena perdarahan disebabkan oleh plasenta previa dan solusio palsenta. Perdarahan trimester III disebut perdarahan antepartum, yaitu perdarahan pervaginam yang terjadi setelah 29 minggu atau lebih. Semua perdarahan yang terjadi pada ibu hamil harus terdiagnosa dengan baik dan jika terjadi keadaan patologi harus bisa terdeteksi lebih dini untuk menyelamatkan ibu dan janin.

Jenis-jenis perdarahan artepartum :
Plasenta Previa

Plasenta yang berimplantasi rendah sehingga menutupi sebagian atau seluruh ostium uteri internum. Tanda dan gejalanya :

  • Gejala yang terpenting adalah perdarahan tanpa nyeri, biasa terjadi secara tiba-tiba dan kapan saja.
  • Bagian terendah anak sangat tinggi karena plasenta terletak pada bagian bawah rahim sehingga bagian terendah tidak dapat mendekati pintu atas panggul.
  • Pada plasenta previa, ukuran panjang rahim berkurang maka pada plasenta previa lebih sering disertai kelainan letak.

Deteksi dini :

  • Pengumpulan data: Tanyakan pada ibu tentang karakteristik perdarahannya, kapan mulai, seberapa banyak, apa warnanya, adakah gumpalan dan lain-lain.
  • Anamnesis perdarahan tanpa keluhan, perdarahan berulang.
  • Pemeriksaan fisik
  • Periksa TD, suhu, nadi dan DJJ
  • Jangan melakukan pemeriksaan dalam dan pemasangan tampon, karena hanya akan menimbulkan perdarahan yang berbahaya dan menambah kemungkinan infeksi.
  • Lakukan pemeriksaan luar, rasakan apakah perut bagian bawah lembut pada perabaan.
  • Pemeriksaan inspekulo dilakukan secara hati-hati dapat menentukan sumber perdaraan berasal dari kanalis servikalis atau sumber lain seperti varices yang pecah dan kelainan serviks (polip, erosi Ca).

Pemeriksaan USG :

  • Diagnosis plasenta previa dapat ditegakkan dengan pemeriksaan Ultrasonografi (USG). Penggunaan USG transabdominal memiliki ketepatan diagnosisnya mencapai 95-98%.
  • Pemeriksaan USG dapat menentukan implantasi plasenta dan jarak tepi plasenta terhadap ostium.

Pemeriksaan Dalam di meja operasi :

  • Jika USG tidak tersedia dan usia kehamilan 37 minggu, diagnosis dapat ditegakkan dengan cara melakukan perabaan plasenta secara langsung melalui pembukaan serviks.
  • Jika masih terdapat keraguan diagnosis, lakukan pemeriksaan digital dengan hati-hati.
Solutio plasenta

Lepasnya plasenta sebelum waktunya. Secara normal plasenta terlepas setelah anak lahir. Tanda dan gejalanya :

  • Darah dari tempat pelepasan keluar dari serviks dan terjadilah pendarahan keluar atau perdarahan tampak.
  • Kadang-kadang darah tdak keluar, terkumpul di belakang plasenta.
  • Solutio plasenta dengan perdarahan tersembunyi menimbulkan tanda yang lebih khas (rahim keras seperti papan) karena seluruh perdarahan tertahan di dalam. Umumnya berbahaya karena jumblah perdarahan yang keluar tidak sesuai dengan beratnya syok.
  • Perdarahan disertai nyeri, juga di luar his karena isi rahim.
  • Nyeri abdomen pada saat dipegang
  • Palpasi sulit dilakukan
  • Fundus uteri makin lama makin naik
  • Bunyi jantung biasanya tidak ada

Deteksi dini :

  • Pengumpulan data
  • Tanyakan pada ibu tentang karakteristik perdarahannya, kapan mulai, seberapa banyak, apa warnanya, adakah gumpalan dan lain-lain.
  • Tanyakan pada ibu apakah merasakan nyari atau sakit ketika mengalami perdarahan tersebut.

2. Sakit kepala yang berat

Wanita yang hamil mengeluh nyeri kepala yang hebat merupakan tanda bahaya kehamilan. Sakit kepala yang menunjukkan suatu masalah serius adalah sakit kepala yang menetap dan tidak hilang dengan beristirahat. Kadang–kadang dengan sakit kepala yang hebat ibu mungkin menemukan bahwa pengelihatannya menjadi kabur atau terbayang–bayang. Sakit kepala yang hebat dalam kehamilan adalah gejala dari preeklamsi. Akibat dari preeklamsi adalah persalinan preterm dan bisa berlanjut eklamsia bila tidak terdeteksi sedini mungkin. Sehingga keadaan sakit kepala yang hebat ini juga merupakan tanda bahaya kehamilan yang dapat mengancam keselamatan ibu dan janin.

Deteksi dini :

  • Pengumpulan data
  • Tanyakan pada ibu apakah ia mengalami edema pada muka dan tangan atau masalah visual.
  • Pemeriksaan
  • Periksa TD, protein urin, refleks dan edema atau bengkak.
  • Periksa suhu, jika tinggi pikirkan untuk melakukan pemeriksaan darah untuk mengetahui adanya parasit malaria.

3. Pengelihatan kabur

Wanita hamil mengeluh pengelihatan yang kabur. Karena pengaruh hormonal, ketajaman penglihatan ibu dapat berubah dalam kehamilan. Masalah visual yang mengidentifikasikan keadaan yang mengancam adalah perubahan visual yang mendadak, misal pandangan kabur dan berbayang. Perubahan pengelihatan mungkin disertai sakit kepala yang hebat dan mungkin menandakan preeklamsi. Selain itu pengelihatan kabur adalah gejala yang sering ditemukan pada preeklamsi berat dan merupakan petunjuk akan terjadi eklamsia. Tanda inilah yang perlu dideteksi sejak dini untuk mencegah terjadinya komplikasi yang mengancam keselamatan ibu dan janin. Tanda dan gejalanya :

  • Masalah visual yang mengindikasikan keadaan yang mengancam adalah perubahan visual yang mendadak, misalnya pandangan kabur dan berbayang.
  • Perubahan penglihatan ini mungkin disertai sakit kepala yang hebat dan mungkin menandakan preeklamsia.

Deteksi dini :

  • Pemeriksan data
  • Periksa TD, protein urin, refleks dan edema.

4. Bengkak (edema) di wajah dan tangan

Edema adalah penimbunan cairan secara umum dan berlebihan dalam jaringan tubuh, biasanya dapat diketahui dari kenaikan berat badan serta pembengkakan kaki, jari tangan dan muka. Edema merupakan salah satu trias adanya preeklamsia. Kenaikan berat badan ½ kg setiap minggu dalam kehamilan masih dapat dianggap normal, tetapi bila kenaikan satu kilogram seminggu beberapa kali hal ini perlu diwaspadai, karena dapat menimbulkan preeklamsia. Tanda dan gejalanya :

  • Bengkak bisa menunjukan adanya masalah serius jika muncul pada muka dan tangan, tidak hilang setelah beristirahat dan disertai dengan keluhan fisik yang lain. Hal ini bisa merupakan pertanda anemia, gagal jantung atau preeklamsia.

Deteksi dini :

  • Pengumpulan data
  • Tanyakan kepada ibu apakah ia mengalami sakit kepala atau masalah visual.
  • Pemeriksaan
  • Periksa adanya pembengkakan
  • Ukur TD dan protein urin ibu
  • Periksa haemoglobin ibu (atau warna konjungtiva) dan tanyakan tentang tanda dan gejala lain dari anemia.

5. Keluar cairan pervaginam

Keluarnya cairan pervaginam pada keadaan inpartu adalah hal yang normal. Tetapi jika keluarnya air ketuban yang merembes atau mengalir dari vagina tanpa atau ada kontraksi pada kehamilan belum cukup bulan dapat menyebabkan infeksi kehamilan atau persalinan. Kondisi ini dinamakan ketuban pecah dini. Ketuban pecah dini akan menghambat proses persalinan dan bisa menyebabkan kematian ibu dan janin. Batasan :

  • Keluarnya cairan berupa air-air dari vagina pada trimester 3
  • Ketuban dinyatakan pecah dini jika terjadi sebelum proses persalinan berlangsung.
  • Pecahnya selaput ketuban dapat terjadi pada kehamilan preterm (sebelum kehamilan 37 minggu) maupun pada kehamilan aterm.
  • Normalnya selaput ketuban pecah pada akhir kala I atau awal kala.
  • Persalinan, bisa juga belum pecah saat mengedan.

Deteksi dini :

Strategi pada perawatan antenatal

  • Deteksi faktor risiko
  • Deteksi infeksi secara dini
  • USG : biometri dan funelisasi
  • Trimester I : deteksi faktor risiko, aktifitas seksual, pH vagina, USG, pemeriksaan Gram, darah rutin, urin.
  • Trimester II dan III : hati-hati bila ada keluhan nyeri abdomen, punggung, kram di daerah pelvis, perdarahan pervaginam, diare dan rasa menekan di pelvis.

Pengumpulan data: Konfirmasi usia kehamilan, kalau ada dengan USG.

Pemeriksan

  • Dengan pemeriksaan inspekulo untuk menilai cairan yang keluar (jumlah, warna, bau) dan membedakannya dengan urin
  • Nilai apakah cairan keluar melalui ostium uteri atau terkumpul di forniks posterior.
  • Tentukan ada tidaknya infeksi
  • Tentukan tanda-tanda inpartu.

Konfirmasi diagnosis

  • Bau cairan yang khas
  • Jika keluarnya cairan sedikit- sedikit, tampung cairan yang keluar dan nilai 1 jam kemudian.

6. Gerakan janin tidak terasa

Memantau gerakan janin merupakan salah satu indikator kesejahteraan janin. Gerakan janin mulai dirasakan oleh ibu pada kehamilan trimester II. Jika bayi tidur gerakan akan melemah. Gerakan bayi akan lebih terasa saat ibu berbaring atau istirahat dan jika ibu makan dan minum dengan baik. Pada trimester III, gerakan janin sudah bisa dirasakan ibu. Total gerakan janin pada trimester III mencapai 20 kali perhari, termasuk kategori batas normal. Tanda dan gejalanya :

  • Gerakan bayi kurang dari 3 kali dalam periode 3 jam

Deteksi dini :

  • Pengumpulan data
  • Jika bayi sebelumnya bergerak dan sekarang tidak bergerak, tanyakan pada ibu kapan terakhir bergerak.
  • Pemeriksaan
  • Raba gerakan bayi
  • Dengarkan DJJ
  • Jika pemeriksaan radiologi tersedia, konfirmasi kematian janin setelah 5 hari
  • USG : merupakan sarana diagnostik yang baik untuk memastikan kematian janin

7. Nyeri Abdomen yang hebat

Jika ibu hamil mengeluh nyeri perut yang hebat dan menetap, hal ini bisa berarti apendisitis, kehamilan ektopik, aborsi, solusio plasenta, penyakit radang panggul, persalinan preterm, gastritis, penyakit kantung empedu, uterus yang irritable, Infeksi Saluran Kemih (ISK) atau infeksi lain. Nyeri merupakan keluhan utama pada kehamilan ektopik. Apabila terjadi rupture dinding tuba pada kehamilan ektopik ini, nyeri perut dan disertai perdarahan, bisa menyebabkan penderita pingsan dan syok. Pada penderita aborsi, nyeri abdomen juga dirasakan, tetapi nyeri pada penderita aborsi tidak begitu hebat pada penderita kehamilan ektopik. Sehingga terjadinya nyeri abdomen pada waktu hamil mengindikasikan adanya tanda kehamilan ektopik, abortus dan solusio plasenta.

Deteksi dini :

  • Pengumpulan data
  • Tanyakan pada ibu tentang karakteristik dari nyeri, kapan terjadi, seberapa hebat, kapan mulai dirasakan
  • Tanyakan pada ibu apakah ia mempunyai tanda atau gejala lain seperti muntah, diare dan demam.
  • Pemeriksaan
  • Ukur TD, suhu dan nadi
  • Lakukan pemeriksaan luar, pemeriksaan dalam, raba kelembutan abdomen atau rebound temderness (kelembutan yang berulang).
  • Periksa protein urin

Catatan situs:

  • Mohon dukungannya dengan share dan web bookmark (kode: ctrl + d) website kami .
  • Jangan lupa untuk like halaman facebook kami fb.com/analisis.id.
  • Jika ada gambar, link, dan ataupun file rusak silakan kirim pesan pada kolom komentar, kami akan segera membalasnya.
  • Sekilas tentang kami.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments